Pj. Kakam Sukarame Data Warga yang akan Menerima BLT

Headline Way Kanan

 

LIPSUSNEWSS.COM – Pj. Kepala Kampung (Kakam) Sukarame, Kecamatan Gunung Labuhan, Kabupaten Waykana, Khairi, SE., telah mendata 118 Kepala Keluarga (KK) yang mendapatkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari 30 persen Dana Desa Tahun 2020.

Dari 118 warga Sukarame, ada 25 Kepala Keluarga tambahan yang mendapat bantuan dari Kementrian Sosial. Jadi total Kepala Keluarga yang mendapat bantuan dampak Covid-19 ada 143 KK. Itu semua di luar bantuan PKH dan BPNT.

Sementara yang mendapatkan bantuan PKH sendiri ada 105 KK. Jadi keseluruhan yang mendapatkan bantuan dari Pemerintahan Kampung Sukarame ada 248 KK, dari 387 Kepala Keluarga yang ada di Kampung Sukarame.

Jadi yang tidak mendapat bantuan ada 139 Kepala Keluarga. Karna KK ini tingkat ekonominya sudah tergolong mmmpu. Sesangkan untuk BLT sendiri  harus dibagikan secara transparan terhadap warga, dan bantuan ini harus sampai ke masyarakat yang memang benar-benar layak mendapatkannya.

“Kalau kita harus memenuhi 14 kriteria yang dianjurkan pemerintah, mungkin hanya 10 orang warga Sukarame yang mendapatkan bantuan,” ujar Pj. Kepala Kampung Sukarame.

Namun, lanjut Khairi, pihaknya memiliki acuan sendiri untuk menyikapinya. Pertama, tingkat ekonomi paling bawah, menengah dan sampai tingkat atas. Itu semua di luar yang mendapatkan PKH dan BPNT.

“Kalau bicara anjuran pemerintah, yang berhak menerima bantuan yang terdampak Covid-19. Kita ini terdampak semua, siapa pun itu.
Tapi tetap kembali ke yang lebih layak untuk mendapatkannya, dan saya terjun sendiri kelapangan untuk mendatanya bersama pendamping desa, pendamping lokal desa), pendamping PKH dan Babinkamtibmas,” ujarnya.

Sementara untuk memutus rantai penyebaran virus Corona atau Covid-19, Kampung Sukarame telah melakukan 2 kali penyemprotan disinfektan dan membagikan 1500 masker kepada warga.

Terkait warga yang baru datang dari luar daerah atau mudik, lanjut Khairi, Aparatur Kampung Sukarame langsung jemput bola ke rumah warga untuk memeriksakan kesehatannya ke bidan desa atau ke puskesmas, dan melakukan isolasi mandiri selama 14 hari.

“Bagi warga pendatang, kami langsung mendata dan memeriksa kesehatannya, dan menyarankan untuk mengisolasi diri selama 14 hari di rumahnya. Tapi saya juga butuh bantuan masyarakat untuk memantau pemudik, karena kami tidak bisa terus menerus memenatau selama 24 jam. Apabila mereka ada yang nakal dan masih keluyuran selama isolasi mandiri, saya tegaskan untuk di karantina di Polsek setempat,” ungkapnya. (Hifni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *