AS Bahas Pilihan Militer di Venezuela

INTERNASIONAL

AS Bahas Pilihan Militer di VenezuelaMembers of Venezuela’s Bolivarian National Armed Forces (FANB) attend a news conference detailing the upcoming drills being prepared in response to U.S. President Trump’s warning of possible military action in Caracas, Venezuela, on Friday, Aug. 25, 2017. The U.S. is increasing pressure on the Venezuelan government in response to its President Nicolas Maduro’s moves to seize more authority amid a crippling recession and months of violent protests. Photographer: Carlos Becerra/Bloomberg

LIPSUSNEWS.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan telah membahas pilihan penggunaan militer di Venezuela selama percakapan dengan Senator Partai Republik Lindsey Graham.

Jejaring berita Axios melaporkan pada Ahad larut malam (27/1) bahwa Graham mengatakan di dalam satu perbincangan pada awal Januari, Trump meminta pendapatnya mengenai penggunaan militer untuk ikut-campur di Venezuela.

Graham memberitahu Trump tindakan itu bisa "bermasalah". Dan Trump menjawab, "Yah, saya terkejut, Anda ingin menyerbu setiap orang."

"Saya tidak mau menyerbu setiap orang, saya hanya menggunakan militer ketika kepentingan keamanan nasional kita terancam," kata Graham kepada Trump, menurut Axios.

Senator Republik itu mengatakan Trump sangat "hawkish" ketika sampai pada masalah Venezuela –negara yang telah ia dorong bagi perubahan rejim, kata Kantor Berita Turki Anadolu –yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa. Venezuela telah menjadi perhatian utama kebijakan luar negeri presiden AS tersebut sejak ia memangku jabatan.

Namun, Axios menyatakan tak ada tanda bahwa Pemerintah Trump berencana menggunakan kekuatan militer di negara Amerika Latin itu, dan mengatakan setiap upaya untuk mendorong perubahan rezim adalah diplomatik dan ekonomi.

Setelah demonstrasi massa di seluruh negeri tersebut, pemimpin oposisi Juan Guaido pada Rabu lalu (23/1) mengumumkan pemerintah Venezuela di bawah Nicolas Maduro tidak sah dan ia akan menjadi presiden, dengan mengubah satu klausul di dalam Undang-Undang Dasar Venezuela.

Pengumuman itu diikuti oleh pernyataan dari Presiden AS Donald Trump, yang mengakui Guaido, Presiden Majelis Nasional Venezuela, sebagai presiden sementara.

Argentina, Kanada, Chile, Kolombia, Kosta Rika, Ekuador, Guatemala, Panama dan Paraguay telah mengikuti tindakan AS sementara Bolivia dan Mexico terus mengakui Maduro.

Sumber: Kantor Berita Antara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *